Keimanan Yang Memampukan Kita Menaruh Ke-Yakinan Akan Kebenaran Proposisi Itu

 

Keimanan Yang Memampukan Kita Menaruh Ke-Yakinan Akan Kebenaran Proposisi Itu

Ketika anda masih ada di perbatasan dan sebelumnya anda akan memborosan waktu lagi untuk sejarah ini saya harus menjelaskan bahwa saya saya akan membujuk anda untuk mempertimbangkan. Suatu yang mungkin di anggap dengan apa bagi orang mistis dan orang gila, tetapi tidak di sukai sama sekali.

kini pada umum nya para pemikir kelas atas, akademisi seperti Charles Simony professor dari public anderstanding of science di oxford, dan tokoh reallistis lain nya Pikiran Tuhan, tidak lebih baik dari pada laki-laki tua berrambut putih di atas awa. Ini kesalahan nyang sama, kata mereka menduga pasti tuhan seperti mereka antromorfik yanngh keliru.

Bahkan jika kita mengaju bahwa tuhan itu ada mereka berkata mengapa. Ia harus seperti kita dan mengapa pikiran nya harus sama sepeti kita, Kenyataan adalah mereka benar. tentu saja tidak ada alasan sama sekali. kecuali sebalik nya. Dengan kata lain satu-satunya mengapa pikiran Tuhan sama seperti nya yaitu, jika Tuhan membuat dengan citranya.

Dan inilah segalanya jungkir balik dan berkebalikan. Sejak kecil saya telah memiliki kepercayaan keagamaan
yang kuat, tetapi dengan sedikit keimanan kepada Tuhan. Ada perbedaan antara kepercayaan kepada seperangkat proposisi dengan. Secara implisit, saya percaya Tuhan itu ada; saya juga beriman kepada kehadiran sejati Kristus dalam Ekaristi, kepada kebenaran sakramen, kepada kemung-kinan keabadian neraka, dan kepada realitas objektif peleburan dosa.

Tidak mengherankan jika konsep itu kurang bermakna buat saya. Bahkan, mesti saya akui, hingga saat ini konsep itu masih membuat saya bergidik. Konsep itu juga merupakan sebuah definisi yang amat kering, angkuh, dan arogan. Sejak menulis buku ini, saya semacam itu juga tidak benar. Ketika remaja, saya mulai menyadari bahwa ternyata ada sesuatu pada agama yang lebih daripada sekadar rasa takut.

Saya telah membaca tentang kisah kehidupan para rahib, puisi-puisi metafisik, T. S. Eliot, dan beberapa tulisan mistik yang lebih sederhana. Saya mulai tergugah oleh keindahan liturgi dan, meskipun Tuhan masih tetap terasa jauh, saya dapat merasakan kemungkinan untuk men-dekatkan jarak kepadanya dan bahwa penampakannya akan meng-ubah seluruh realitas ciptaan. Untuk mencapai ini, saya pun memasukisebuah ordo keagamaan. Semoga kalin dapat faedahnya  setelah apa yang sudah di jabarkan di atas. Dan artikel ini dari  http://988poker.me/ Terimakasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *